Daftar 100 makanan yang diklaim Malaysia

00.41 Posted In , , , Edit This 0 Comments »
Di tengah tudingan Malaysia telah mengklaim beberapa budaya asal Indonesia, Malaysia melancarkan aksi balasan. Bukan budaya yang mereka perdebatkan, negeri jiran menabuh genderang 'perang kuliner'.

Kata menteri pariwisata Malaysia, Ng Yen Yen, Malaysia akan mengajukan klaim atas sejumlah makanan asli Malaysia yang "dibajak" oleh negara lain.

Makanan-makanan yang disebut asli Malaysia antara lain semacam sup mie pedas yang disebut 'laksa', nasi yang dimasak dengan santan yang terkenal dengan nama 'nasi lemak', nasi ayam Hainan, dan sup herbal iga babi yang disebut 'bak kut teh'.

Meski hanya empat makanan yang disebut-sebut, Malaysia ternyata punya daftar 100 makanan warisan kuliner kekayaan Malaysia, yang dimuat dalam laman Jabatan Warisan Negara, Kementerian Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan.

Aduh, ketupat dan nasi tumpeng termasuk yang diaku milik negeri jiran

Ini dia daftar makanan yang dilabeli "truly Malaysia" yang datanya diperbarui pada Rabu 17 Juni 2009 :

1. Nasi lemak, 2. Nasi ayam, 3. Nasi Kunyit (pulut kuning), 4. Nasi Tumpang, 5. Nasi Kerabu, 6. Nasi Dagang, 7. Nasi Himpit, 8. Nasi Goreng Kampung, 9. Nasi Ulam, 10. Ketupat,

11. Lemang, 12. Pulut Kukus Periuk Kera, 13. Mee Mamak, 14. Laksa, 15. Mee Kari, 16. Char Kuay Teow Pulau Pinang, 17. Laksa Johor, 18. Mee Siam, 19. Bubur Pedas Sarawak, 20. Bubur As-Sura. 21. Bubur Sum Sum, 22. Bubur Kacang Hijau, 23. Sagu Gula Melaka, 24. Kuih Bingka Ubi,

25. Rendang, 26. Serunding, 27. Ayam Percik, 28. Manoh Pansoh, 29. Masak Ayam Pedas, 30. Gulai Tempoyak Ikan Patin, 31. Ikan Bakar, 32. Ikan Panggang Tanah Liat, 33. Gulai Lemak Umbut, 34. Gulai Lemak Cili Padi, 35. Gulai Asam Rom, 36. Kari Kepala Ikan, 37. Kurma Daging/Ayam, 38. Pajeri, 39. Masak Ikan dan Pisang Dalam Buluh, 40. Yong Tau Foo, 41. Daging Dendeng, 42. Ayam Panggang, 43. Botok-Botok Ikan, 44. Sambal Tumis, 45. Chili Crab,

46. Tek Tarik, 47. Cendol, 48. Air Batu Campur, 49. Air Kelapa, 50. Air Selasih,

51. Hinava/Umai, 52. Pekasam, 53. Tempoyak, 54. Otak-otak, 55. Sambal Belacan, 56. Cencaluk, 57. Sambal Gesek Ikan Bilis, 58. Sate/Satay, 59. Yee Sang, 60. Sata, 61. Telur Pindang, 62. Kerabu Mangga Muda, 63. Acar,

64. Kuih Koci, 66. Akok, 67. Kuih Seri Muka, 68. Kuih Cara, 69. Kuing Bingka, 70. Kuih Bakul, 71. Kuih Bulan, 72. Kuih Cincin, 73. Kuih Bakar, 74. Kuih Sepit, 75. Apam Balik, 76. Pisang Goreng, 77. Keropok, 78. Opok-opok, 79. Karipap, 80. Buah Melaka atau Ondeh-ondeh, 81. Lempeng, 82. bahulu, 83. Dodol, 84. Lempuk Durian, 85. Wajik,

86. Seri Kaya, 87. Halwa, 88. Agar-agar, 89. Pulut Panggang, 90. Tapai, 91. Masalodeh, 92. Putu Mayam, 93. Maruku,

94. Roti Jala, 95. Roti Canai, 96. Tosai, 97. Penderam, 98. Kuih Lopis, 99. Laddu, 100. Ubi Kayu.

Ditemukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

23.46 Posted In , , , , Edit This 0 Comments »
Jakarta (ANTARA News) - Para pakar geologi Indonesia, AS dan Prancis berhasil menemukan gunung api bawah laut raksasa berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter yang berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.

Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.

"Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua, " kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut.

Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.

"Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus," katanya.

Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km) yang meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Tim ahli dari Indonesia, AS dan Perancis kemudian bekerjasama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image). (*)

COPYRIGHT © 2009

Sumber: http://www.antaranews.com

TV Causes Learning Lag in Infants

22.00 Posted In , , , Edit This 0 Comments »
Even infants zone out in front of the television, and it turns out this translates into less time interacting with parents and possible lags in language development, a new study finds.
"We've known that television exposure during infancy is associated with language delays and attentional problems, but so far it has remained unclear why," said lead researcher Dimitri Christakis, director of the Center for Child Health, Behavior and Development at Seattle Children's Research Institute and professor of pediatrics at the University of Washington School of Medicine.

In fact, the American Academy of Pediatrics discourages television watching before the age of 2, a time when critical development, such as language acquisition, occurs. (Christakis said a baby's brain triples in size during the first two years of life, so there's a lot going on in that little noggin.)
To figure out the TV-language link, Christakis and his colleagues rounded up 329 2-month to 4-year-old children and their parents. The kids wore digital devices on random days each month for up to two years that recorded everything they heard or said for 12 to 16 hours. The researchers didn't determine whether the adults and kids were actively watching the television or if it was just on in the background.

Analyses of the recordings revealed that each hour of additional television exposure was linked with a decrease of 770 words (7 percent) the child heard from an adult during the recording session. Hours of television were also associated with a decrease in the number and length of child vocalizations and the back and forth between the child and an adult (called a conversational turn).
"Some of these reductions are likely due to children being left alone in front of the television screen," the researchers write in the June issue of the journal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine, "but others likely reflect situations in which adults, though present, are distracted by the screen and not interacting with their infant in a discernible manner."
And interaction is key for baby's brain.

"The reason it's concerning is because we know that hearing adults speak and being spoken to are critical exposures that play a role in infants development in language," Christakis told LiveScience.

With 30 percent of households having televisions on all the time, the researchers wondered how many fewer opportunities there were for children and parents to communicate and socialize.
"My recommendation first is that children under the age of 2 be discouraged from watching television," Christakis said. He added that even if the TV show is intended for the adults, the effect is the same for their children.

(Four of the authors on the paper were employed by the LENA Foundation, which paid for the data collection and develops technology for the screening, diagnosis and treatment of language delays and disorders in children and adults.)

Why Are 'Mama' and 'Dada' a Baby's First Words?
Video - How Babies Learn Music
Baby News and Information
Original Story: TV Causes Learning Lag in Infants

LiveScience.com chronicles the daily advances and innovations made in science and technology. We take on the misconceptions that often pop up around scientific discoveries and deliver short, provocative explanations with a certain wit and style. Check out our science videos, Trivia & Quizzes and Top 10s. Join our community to debate hot-button issues like stem cells, climate change and evolution. You can also sign up for free newsletters, register for RSS feeds and get cool gadgets at the LiveScience Store.


Sumber: http://news.yahoo.com/s/livescience/tvcauseslearninglagininfants